Bisa jadi yang tidak tepat adalah landasannya (variabel pendukung pembuat keputusan jawaban), atau cara penalaran orang memberi masukan, bisa jadi juga orangnya yang memang tidak ahli disana.
Tidak harus seorang pebisnis, bahkan seorang penulispun kerapkali salah dalam mengambil pendapat orang. Misalkan istrinya lagi masak tiba-tiba di mintai pendapat : "Ma, mama... menurutmu gimana ini ma tulisanku yang ini..."
Ya kontan aja dijawab dengan sekenanya. Ya okelah kalau perbincangan pendapat ini sekedar dijadikan sebagai obrolan santai dan tidak terlalu dipaksakan untuk menjadi sebuah solusi primer. Tetapi masalahnya kadang si penanya kepancing untuk lebih serius. Ketika dapat jawaban dari orang yang dia mintai pendapat tadi, dia langsung defensif. Akhirnya yang terjadi malah debat kusir. Atau kalau tidak seperti itu, jawaban tadi terngiang terus, sampai akhirnya membuat keputusannya berubah. Ini tidak benar.
Kalau boleh saya simpulkan, dia bertanya ke istrinya tadi sebenarnya dibalik itu dia minta dukungan. Ternyata dukungan tersebut tidak dia dapatkan. Malah tanpa sadar beralih ke topik pembahasan serius bisnisnya. Ya tidak cocok suasana seperti itu membahas bisnis. Literaturnya terlalu parsial.
Lebih parah lagi masukan sang istri dijadikan pijakan.
Jadi sebelum bertanya, seorang pebisnis pemula hendaknya berpikir apa tujuan saya bertanya. Tujuannya sekedar basa-basi kah, guyonan kah, atau jangan-jangan ungkapan keinginan dapat dukungan. Lalu sesudah tau, gunakan tujuan itu sebagai pijakan. Suasana diskusi juga sesuaikan dengan konsep tujuan dari pertanyaan anda. Suasana salah hasilnya juga tidak akan memuaskan.
Jadi jika memang tujuannya adalah untuk meminta pendapat secara serius tentang sebuah bisnis, tanyakan pada ahlinya. Lalu bikin suasana yang enak disesuaikan dengan tujuan tersebut. Sehingga literatur yang tepat akan keluar untuk menjadi variabel pengambilan keputusan dan jawaban yang tepat.
Semua pendapat yang tidak didasari dengan data yang ilmiah, apalagi jawaban sambil lalu saja, jangan jadikan pijakan. Anggap angin lalu.
Mengapa orang dilarang ke dukun ? Ya karena jawabannya ngawur, sok tahu, dan tidak ilmiah. Komplit sudah keburukannya.