Caranya adalah dengan mengubah mindset kita. Bahwa dalam hal menulis ini,tidak ada perlombaan bagus-bagusan di dalamnya. Ini yang harus benar-benar dicamkan. Ini bukanlah sebuah turnamen yang harus ada pemenang, meskipun seandainya merupakan turnamen yang harus ada pemenangnyapun tidak masalah seharusnya karena kita bisa menjadi bagian partisipan dan itu baik.
Tetapi ini adalah tentang apa yang bisa kita berikan untuk sesama. Mungkin di luar sana banyak penulis hebat dengan karya-karya yang besar dan sangat menginspirasi orang. Atau karya tulis yang sangat ilmiah, keren, dan sangat bagus sehingga bisa langsung diterapkan orang untuk mengamalkannya. Dan itu merupakan kebagusan.
Tetapi hal itu bukan berarti mencegah kita untuk ikutan menulis. Sekalipun seseorang dengan tulisannya bisa memberi 100 poin untuk semua orang, dan dengan ribuan atau bahkan mungkin jutaan pembacanya, sementara kita hanya memberi 10 poin tanpa ada yang mau melirik, maka tidak masalah. Karena kita mampunya memberi baru segitu. Paling tidak niat kebaikan tetap akan dituliskan. Padahal ini sudah amalan, meski tidak ada yang mau membaca.
Jadi menurutku, tak perlu berhenti karena memandang karya orang. Terus aja berkarya. Adapun nanti berapa yang mau membaca dan berapa lagi yang terinspirasi, itu terserah Allah yang menentukan. Kita cuman dituntut untuk terus berkarya (beramal), tetapi hasilnya bagaimana maka Allah yang menentukan. Beramal sesuai kemampuan kita.
Konsep seperti ini tidak hanya di dunia kepenulisan. Di dunia lainpun bisa diterapkan. Seorang Habibie mungkin tidak akan pernah memiliki 35 karya lebih di bidang penerbangan kalau seandainya beliau sudah minder duluan ketika mau membuat karya di awal-awal dahulu. Atau taruhlah Michael Jackson (meskipun musik diharamkan dalam Islam), tidak akan pernah memiliki sekian banyak album fenomenal kalau dulu dia menyerah saat diejek sana sini karena dianggap jelek karyanya.
Tidak, ini semua bukan tentang perlombaan. Ini adalah tentang memberi. Berapapun yang kau berikan tidak masalah. Yang penting pemberian tersebut kita lakukan dengan ikhlas dan tidak menyalahi aturan Islam maka tidak masalah. Apalagi selama itu mengajak kepada kebaikan. Kita memberi sedikit tidak perlu dibandingkan dengan mereka yang memberi banyak. Kemampuan setiap orang beda-beda.
Hal ini juga bukan tentang si hebat yang mengalahkan si pecundang. Terlalu banyak menonton sinetron sepertinya kalau masih berpikir seperti itu. Tetapi ini adalah tentang beramal dan tidak boleh diam. Apapun ide kita patut untuk dimunculkan. Jangan hanya diam saja dan jadikan ide hanya sekedar angan-angan. Paling tidak jadikan itu sebagai tulisan biar ada dokumentasi bagi orang lain yang mungkin saja terinspirasi kemudian hari, untuk membuatnya suatu saat nanti. Cara terbaik adalah menuliskannya (mendokumentasikannya).
Kemudian kalau diremehkan orang bagaimana ? Jangankan diremehkan, di hujatpun lho ndak masalah. Yang bermasalah adalah yang menghujat.
Karya mana yang lebih baik dari "karya" nya Rasulullah dalam menyebarkan Al Qur'an coba ? Atau Kitab/ tulisan mana yang lebih baik dari Al Qur'an ? Tidak ada. Tapi kenyataannya sekelas "karya"-nya Rasulullah dan juga kitab sempurna Al Qur'anpun, banyak banget yang meremehkan bahkan menghujat (maksudnya : Al Qur'an merupakan kalamullah, sementara Rasulullah yang menyampaikan ke umatnya, pen). Itu sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Al Qur'an dan juga Rasulullah. Yang ada adalah yang menghujat akan direndahkan oleh Allah. Kita perlu belajar dari ini.
Jadi selama itu untuk kebaikan dan tidak bertentangan dengan agama, semua orang berhak untuk menulis. Yang salah itu yang mengejek. Terus aja menulis biar mulut mereka nanti akan terbungkam sendiri. Kecuali kalau tulisan kita ajakan ke kejahatan atau keburukan, maka sebaiknya jangan lakukan.