Namun seringkali juga kita meremehkan terhadap seorang mentor bisnis ketika tau bahwa latar belakangnya bukanlah pebisnis hebat. Apalagi yang ketika dia mulai beralih banting setir menjadi coach adalah ketika bisnisnya gagal. Dan kitapun akan semakin meremehkannya.

Ya kita maklum karena memang di luar sana saat ini demikian banyak merebak dimana-mana coach abal-abal. Coach yang seperti ini tidak memiliki ilmu yang mumpuni di bisnis tetapi membuka bisnis coaching bisnis. Dan seringnya mereka bisnis dengan cara memberi saran bisnis ini tanpa rasa bersalah jika sarannya salah.

Kalau si coach ini masih punya tanggungjawab dan ketulusan dalam membimbing, okelah masih dimaklumi. Mungkin ilmu bisa di-upgrade sambil jalan selama ada niatan dan dedikasi. Akan tetapi ada saja coach yang tidak bertanggungjawab. Dia memaksakan ilmunya yang minim tersebut dan tanpa mau belajar. Mungkin merasa sudah pinter atau merasa dengan ilmu secekak itupun bisnisnya sudah jalan, lalu buat apa nambah ilmu.

Akhirnya bisnis bukannya maju tapi malah tambah mundur karena campur tangannya. Yang kasihan anda yang sebagai pebisnis, dimana malah bangkrut karena salah menunjuk coach. Adapun si coach gak ada resiko. Malah dia dapat duit dari anda sesuai kontrak. Atau kalaupun ada resiko, paling banter resiko dibenci klien-nya. Tidak masalah bagi orang yang tebal muka.

Yang saya bicarakan ini adalah oknum. Jangan gebyah uyah anda menganggap semua coach seperti itu ya. Sekali lagi itu hanya oknum.

Nah kemudian, saking banyaknya coach yang nakal seperti itu, para pebisnispun jadi bingung untuk memilih mana coach yang benar-benar bisa dijadikan coach dan mana coach yang hanya abal-abal. Maka perlu dibuat standar. Dan akhirnya muncullah standar cara pemilihan coach itu. Dimana standar itu berbunyi : Seorang coach harus memiliki bisnis. Standar inilah yang coba saya kritisi.

Saya menganggap, bahwa tidak mesti seorang pelatih hebat dulunya adalah pemain hebat. Tidak mesti seorang coach bagus adalah orang yang memiliki bisnis hebat. Kepemilikan bisnis okelah, tetapi tidak perlu dipersyaratkan bahwa bisnisnya hebat dan orangnya adalah orang kaya raya dari bisnis.

Mengapa ? Diantara alasannya adalah :
Sudut pandang seorang coach beda dengan sudut pandang serang pengusaha. Pengusaha, dia menggunakan kacamata kuda, tetapi coach menggunakan kacamata yang lebih luas. Coach bisa sebagai pengamat sekaligus sebagai pembeli.

Anda bisa lihat contoh banyak coach bisnis yang telah membimbing ratusan atau bahkan ribuan orang yang tidak terlalu sukses karirnya sebagai pebisnis.

Pernahkah anda merenungkan bahwa ternyata sebuah perusahaan Traning ISO tidak diisi oleh para trainer yang juga merupakan pengusaha hebat ? Rasanya jarang ada pengusaha hebat yang mau jadi trainer ISO. Padahal ISO merupakan standar baku yang diakui internasional baik oleh Perusahaan maupun konsumennya. Nyatanya para tainer ISO kayaknya tidak ada yang merupakan pengusaha hebat. Justru mereka adalah para pekerja yang sumber pendapatannya bukan dari bisnis, tetapi dari gajian.

"Ah mereka bisa begitu kan karena sudah ada standar bakunya ?"

Ya benar, karena trainer ISO sudah memiliki juklak untuk mengajari sebuah Perusahaan dalam hal ISO tersebut.

Dari sini kita bisa simpulkan bahwa tidak mesti seorang coach hebat merupakan pebisnis hebat. Belum tentu. Yang penting juklaknya bagus kan. 

Lalu kalau begitu, apa pedoman yang bisa dijadikan acuan untuk menilai mana coach bagus dan mana coach abal-abal ? Berikut akan saya coba memberikan kaidahnya :

Cara membedakan antara Coach Bagus dengan Coach abal-abal :

1. Lihat dari Ilmunya. Sudah benarkah ilmunya ? Tidak ada yang kontradiktif ? Tidak ada yang bertentangan dengan akal sehat ? Kalau ada yang kontradiktif atau bertentangan denga akal sehat sebaiknya tinggalkan. Seorang coach bagus harus ngomong dengan data. Jangan dengan asumsi. Karena asumsi si coach bisa berbeda dengan asumsi konsumen kita. Ini berbahaya kalau tidak sampai match. Strategi bisnis bisa salah. 

2. Bagaimana dia menjual keahliannya. Apakah dia slow saja ? Ataukah justru menggebu-nggebu? Coach hebat biasanya slow saja. Dia tidak menggebu-nggebu menawarkan diri jadi coach anda. Mengapa tidak menggebu-nggebu ? Karena dia paham dengan kondisi lapangan dan dia yakin betul dengan ilmunya.

3. Coach bagus ada ketulusan dalam menyampaikan materi. Tidak melulu soal jual beli seperti contohnya ucapan : "Lu punya duit sekian maka lu juga pantesnya dapat ilmu saya sekian."
Coach yang baik kita bisa rasakan kok. Orang yang hatinya ada ketulusan, akan membuat kita nyaman dekat dengan dia. Coba rasakan itu ketika dekat dengan seorang coach. Omongannya juga tidak melulu tentang duit dan duit. Tapi juga tentang keikhlasan, tentang memberi, seni pengendalian diri, dan juga tentang agama.

4. Coach bagus tidak menutup mata jika yang dimentori memiliki pandangan berbeda dengan dirinya. Sebagaimana guru juga gitu, ketika murid memiliki ide atau ilmu lebih bagus dari dia, maka coach/ guru yang bagus tidak akan mengkerdilkan si murid. Karena baginya itu tidak masalah, ilmu bisa datang dari mana saja. Jadi dia tidak ada rasa ingin menang sendiri. Baginya, selama ilmu baru tersebut bagus dan menunjang kesuksesan mengapa tidak.

5. Coach yang buruk seringkali berbohong atau ada indikasi bohong. Misalnya dia menyampaikan salah satu contoh kesuksesan dari seseorang. Dia tidak begitu jelas mengungkapkan identitas si orang sukses tersebut. Sehingga susah untuk dilacak. Atau ketika dikejar dia menghindar. Ini sudah bisa jadi indikasi kurang baik. Kejujurannya patut dipertanyakan.

6. Coach yang baik materinya mudah dicerna dan selaras dengan akal yang sehat. Adapun coach abal-abal seringkali ilmunya tidak match dengan akal sehat. Biasanya hal semacam ini terjadi di seminar-seminar MLM atau sejenisnya. Semisal ketika seorang coach pada sebuah seminar MLM mengatakan : "anda akan pasif income jika terjun kesini. Akan dapat duit selamanya cukup dengan sekian kaki. Anda akan dapat bonus BMW, rumah mewah, liburan ke Makau..". Banyak keanehan disini, seperti pasif income, hedonitas kemewahan, dan lain sebagainya. Pasif income aneh karena namanya MLM, downline kita itu manusia, tidak bisa disetir kerja keras demi nyugih-kan kita yang jadi upline-nya. Lihat aja kebanyakan MLM prothol karena downline yang tidak kuat. Kalau downline prothol otomatis ya hilang pendapatan upline

Kemudian juga tentang hedonitas kemewahan yang didengungkan, bukankah itu semua kan hanya asesoris ? Pengusaha tidak bisa diidentikkan dengan itu. Pengusaha itu identik dengan struggle, dan kerja keras yang menjadi life style. Tidak ada pengusaha yang menjadikan hedonitas sebagai gaya hidup bisnis. Itu keliru. Itu hanya merupakan salah satu cara seorang pengusaha menikmati hasil. Bukanlah sesuatu yang patut dimunculkan. Jika seorang coach yang diagungkan adalah asesoris semata seperti itu, nanti pasarnya orang males dan semangat lemah yang akan mudah gagal karena putus asa. 

7. Totalitasnya. Coach hebat tidak keep-keep ilmu (suka merahasiakan ilmu). Klo ada coach yang dIkit-dikit ikuti di seminar dia berikutnya, dikit-dikit silahkan beli dan pelajari dari bukunya yang ini, dan seterusnya maka pertanyakanlah kapabilitas coach tersebut. Kalau coach bagus, dia gampang aja memberikan ilmunya tanpa keep-keep-an ilmu tertentu yang menurut dia lebih premium. Kurasa ini coach yang terlalu pede dengan ilmunya. Seakan ilmu tidak berkembang dan juga seakan yang punya ilmu itu hanya dirinya sendiri. Lebih dari itu seakan ilmunya dia adalah ilmu yang sudah pakem bisa dijalankan untuk semua bisnis pasti sukses. 

8. Jangan jadikan latar belakang kesuksesan sebagai pedoman. Karena kalau latar belakang kesuksesan anda jadikan pedoman, maka anda akan kesulitan mendapatkan coach. Karena pengusaha yang sukses biasanya tidak memiliki banyak waktu untuk menjadi seorang coach. Kalaupun ada waktu, jumlahnya teramat sedikit. Bimbingannyapun juga tidak akan tuntas. Pernah dengar diantara 100 orang pebisnis sukses di dunia yang kemudian jadi coach ? Mungkin ada, tapi sedikit. Kalaupun ada yang siap, paling banter dia cuman ngisi seminar selama beberapa jam saja. Tidak bisa totalitas. Dan kalaupun ada biasanya yang dia sampaikan hanya globalnya. Lebih banyak ke motivasinya saja. Selain itu ilmunya tidak implementatif. Cocok secara global tapi belum tentu cocok dengan bisnis anda. betapa banyak antar coach ilmunya yang berbeda-beda

Mungkin itu sedikit cara dari saya cara memilih coach bisnis. Semoga bisa sedikit memberi wawasan tambahan.