Hmm bingung ?
Saya kasih contoh ekstrim. Misalnya kamu adalah seorang pemuda biasa. Sehari-hari waktumu pagi sampai siang kamu habiskan untuk bersekolah. Hari-harimu kamu habiskan di sekolah. Sementara sore kamu berada di tengah keluargamu. Keluarga sederhana seperti kebanyakan masyarakat dimana kamu hidup bersama seorang ayah yang bekerja dari pagi sampai petang, ada disana seorang ibu yang mengurusi Rumah Tangga, dan dua orang adik yang sekolah di SMP dan SD.

Inilah faktanya kehidupanmu. Sementara itu kamu tidak terlalu mencolok dalam mata pelajaran, tapi juga tidak terlalu bodoh. Pertengahan saja. ya kebanyakan orang seperti itu kurang lebihnya. Hidup nyaman kan ? (Mestinya).


Namun masalah itu akan muncul ketika kamu mulai terobsesi menjadi seorang bintang sepakbola terkenal. Kamu membayangkan seolah-olah dirimu adalah dia si bintang terkenal tersebut. Mulai dari cara berpakaian, cara bergaul, sampai dengan cara berbicara kamu seolah seperti dia. Padahal kamu juga tidak terlalu jago-jago amat dalam main bola.

Akhirnya terjadi miss alias selegenje antara yang kamu impikan dengan realita. Yang seharusnya kamu bisa menikmati hari-harimu dengan nyaman dan indah karena kamu bisa menjadi diri sendiri, malah kamu stress karena kamu beranggapan seakan bintang sepakbola terkenal.


Yang saya sebutkan diatas adalah contoh ekstrim. Tidak banyak yang sampai seperti itu. Akan tetapi dalam kehidupan selalu ada beberapa part kecil yang tidak seekstrim contoh ini yang menciderai kehidupan sempurnamu. Bahkan part kecil tersebut kamu tidak paham dimana karena kamu tidak sadar. Part kecil selegenje tersebut sudah ada di alam bawah sadarmu. Yang dengan itu menimbulkan ketidakbahagiaan tersendiri. Maksudnya tidak seutuhnya memiripkan diri seperti bintang terkenal, tapi khusus bagian tertentu saja sudah cukup mengurangi kebahagiaanmu.

Maka dari itu untuk mengenal benar-benar diri kamu sendiri itu penting. Walaupun setiap hari kamu biasa menjalani, tapi banyak yang ndak paham dengan dirinya yang saban hari menjalani hari-harinya tersebut. Karena pikirannya terlalu jauh lompat ke depan sehingga sampai tidak sadar dengan siapa dirinya saat ini.

Oke bolehlah bercita-cita suatu saat nanti ingin jadi seperti begini dan begitu. Ingin bercita-cita jadi seorang dokter misalnya. Tapi saat ini tidak boleh kamu mengobati pasien. Ada saatnya nanti kamu mengobati pasien itu bakal terjadi. Sekarang sabar aja, jadilah sebagaimana dirimu saat ini.

Contoh lain : Okelah bisa saja nanti suatu saat kamu ingin punya kehidupan seperti selebritis. Tapi sadar diri dulu sekarang kamu belum selebritis, maka jadilah diri kamu saat ini seperti apa dulu.

Kamu mungkin juga bercita-cita punya banyak follower di medsos seperti instagram atau pages facebook. Tapi itu nanti. Sekarang follower-mu baru puluhan orang atau ratusan orang, yang kebanyakannya adalah merupakan teman dekat saja. Maka jadilah dirimu yang sekarang. Jangan jaim untuk berinteraksi karena saking kamu membayangkannya dirimu bak selebritis yang follower-nya jutaan sehingga tidak ada waktu untuk membalasi komen.

Yang sering kita lihat di masyarakat adalah orang tidak kaya tapi berpura-pura kaya. Berpenampilan layaknya orang kaya. Belum sanggup beli mobil sudah beli mobil, dengan cicilan. Hutangnya banyak di mana-mana karena untuk membeli perhiasan. Hp selalu update sesuai dengan keluaran terbaru, padahal untuk membelinya dari kredit. Berarti dia masih belum menikmati keadaan dia yang belum kaya. Makanya dia berpenampilan seolah sudah kaya karena pada dasarnya dia tidak bahagia dengan keadaannya yang sekarang dimana dia belum kaya. Itulah maksudnya yang saya singgung di atas tadi.

Kecuali memang orang kaya beneran tidak masalah. Jangan tanyakan.

Solusinya ? Jadilah diri sendiri saat ini kamu ini apa. Oleh karena itu penting mengetahui dan mendefinisikan serealistis mungkin apa dirimu saat ini. Perkara besok ya itu urusan besok. Sekarang ya apa adanya sekarang, itulah yang harusnya kamu pikirkan dan nikmati. Kenali benar-benar siapa dirimu saat ini dan nikmati itu. Karena setiap bentuk kehidupan akan selalu ada nikmatnya disana insyaAllah. Itulah yang harus kamu gali dan rasakan. Tak perlu menoleh orang lain.

Dalam pepatah Inggris dikatakan bahwa pemberian terbaik itu adalah present, dimana bisa dimaknai dengan saat ini. Ya anda saat ini itulah yang menjadi pemberian terbaik. Kenali benar-benar dirimu saat ini dan nikmati itu. Dan terus nikmati prosesnya dalam kamu berubah dari waktu ke waktu. Terus saja. Niscaya akan kamu dapati kebahagiaan yang sesungguhnya. Jauh dari stress, insyaAllah. Apalagi dipadu dengan pasrah kepada Allah saja.

Islam mengajarkan kita untuk tidak terlalu jauh angan-angan. Mungkin ini salah satu hikmahnya tak boleh terlalu jauh membayangkan nikmat yang diterima orang, agar kita bahagia.