Kalau tidak bisa memberikan empati, setidaknya kita hanya butuh diam. Karena diam adalah netral. Tidak menggembirakan, juga tidak menyakitkan.

Baiklah kita beri contoh
Ada teman anda, seorang wanita, yang datang ke hadapanmu. Dia menyampaikan kepada anda bahwa dia baru saja di marahi suaminya. Sebabnya sederhana, dia hanya mengambil uang suaminya. Padahal dalam Islam, seorang istri diperkenankan mengambil uang suaminya sekedar yang dibutuhkan saja. Tapi wanita ini dimarahi sama suaminya. Dia kemudian curhat ke anda.

Gimana respon anda ? Ternyata anda justru menyalahkan dia. Anda katakan, bahwa dia seharusnya jangan lakukan itu.
"Ya kamu sih, udah tau itu duit punya suami masih saja ngambil. Ya boleh ngambil tapi kamu ngambilnya kebanyakan."

Respon anda yang seperti itu tentu bukan tanggapan yang baik meskipun tampaknya tidak ada yang salah. Mau salah bagaimana wong nyambung tanggapan anda.
Tapi ada titik yang anda ndak pahami. Yakni behind the scene-nya. Anda ndak main sense-nya. Apa kira-kira motivasi teman wanita anda ini ketika menyampaikan hal ini. Anda harus pahami itu. Ya gunakan perasaan anda untuk menebak apa yang ada di hati wanita itu. Kalau dalam bahasa agamanya ini disebut bashiroh. Yakni sebuah perasaan yang bisa untuk menebak apa sesungguhnya di balik yang disampaikan.

Nah, kalau dalam kasus ini apa kira-kira ? Ya, perasaan ingin ditemani. Ditemani dalam hal apa ? Dalam hal dia berada di posisi mana. Dalam hal posisinya dia yang menjadi "musuh" suaminya dalam hal mengambil uang tersebut. Jadi posisikan anda seakan-akan sama berada di ruang tersebut. Kemudian baru dari ruang yang sama tersebut anda bisa berdiskusi dengannya.

Anda ambil posisi dulu sama dengan posisi yang dia rasakan. Kembangkan itu dalam sebuah pernyataan dan mimik muka yang mendukung. Seperti berikut misalnya :
"Iya bener, memang kita sebagai sesama wanita sering butuh duit. Dan terpaksa harus ngambil uang suami. Suamimu seharusnya ndak boleh marah. Wong dia ndak ngasih duit dan ndak paham kebutuhan kita..."

Kukira jawaban kedua diatas jauh lebih mengenakkan bagi teman wanita anda.
Baru sesudah si wanita lebih tenang anda bisa mengajak dia berubah, tapi tetap dengan bahasa yang penuh empati. Seperti di bawah ini misalnya :
"cuman memang kita ndak boleh ngambil uangnya banyak-banyak juga sih... karena butuh kita sebenarnya sekian sudah cukup. Kalo bisa sih..."

Anda bisa mengembangkan sendiri jawaban lain yang lebih baik sehingga teman wanita tersebut semakin nyaman dengan anda.

Contoh lain misalnya di medsos. Seseorang yang membuat status yang ternyata itu hoax. Anda langsung mengcounter dengan koment bahwa itu hoax, melanggar Undang-undang ITE, lalu anda sebutin dengan kopas pasal sekian ayat sekian berbunyi bla-bla-bla... Ya benar, itu semua yang anda sampaikan. Tapi anda melupakan satu hal. Bahwa yang anda ajak statusan medsos ini manusia di balik sana. Tentu yang namanya manusia pasti punya perasaan. Anda hanya memandang dari sudut pandang logika semata tanpa memperhatikan perasaannya. Hubungan akan susah berkembang kalau seperti itu. Mungkin yang ada anda akan di unfriend. Dan hubungan pertemanan yang sudah lama terbina menjadi kandas.

Anda bisa menjawab dengan mengedepankan perasaan. Caranya adalah posisikan anda di posisi dia, yaitu seorang yang awam yang belum paham Undang-undang dan belum paham itu hoax. Lalu sampaikan dengan bijak kalimat-kalimat seperti ini contohnya :
"Sepertinya berita itu tidak benar. Ndak tau sih klo saya yang salah..."
Ikut menceburkan diri ke dalam posisi yang sama, lalu mentas bareng dengannya dari posisi tersebut. Tapi kalau takut resiko baiknya ya gak usah koment. Itu lebih netral.

Jadi intinya kembangkan empati, baru kalau orang tersebut sudah mendapatkan empati, kita insyaAllah lebih mudah pula memberikan masukan. Tapi juga jangan sembarang masukan. Ada ilmunya memberikan masukan ke orang. Bikin seakan anda berada di posisi sama dengan dia dan berubah sama-sama.

Kemudian selain itu, dalam memberikan masukan ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, diantaranya adalah :

Pertama harus anda perhatikan usianya. Apakah dia diatas anda ataukah dia dibawah anda ? Tentu bahasa ke usia di bawah anda lebih mudah karena tidak perlu banyak sopan santun. Tapi kalau bicara dengan orang di atas anda, anda harus punya sopan santun lebih. Tuakan dia sesuai usianya. Posisikan dia sebagai orang yang lebih berpengalaman dari anda. Jadi, gunakan bahasa usulan, jangan bahasa menggurui

Kedua, perhatikan kedekatan anda terhadapnya. Apakah dia seorang teman, teman dekat, ataukah teman medsos semata ? ataukah malah gak kenal sama sekali. Jangan perlakukan orang yang tidak anda kenal dengan seperti orang yang anda kenal. Beda jauh. Juga jangan perlakukan orang seakan anda lebih ahli dari dia. Tidak ada orang yang peduli dengan seberapa ahli anda. Yang dipedulikan orang itu hanya seberapa anda respek kepadanya. Itu saja.

Apa akibat buruk ketika anda keliru dalam hal ini ?
Jelas yang pertama hubungan akan renggang,
Kedua, anda menjadi semakin jauh darinya.
Ketiga, jika sampai dia sakit hati karena memang kesalahan ucap anda, kawatirnya dia akan berdoa yang tidak-tidak untuk anda. Kalau dikabutlkan Allah gimana ? makanya disini penting bagi anda untuk berstrategi dalam bergaul.

Ya memang tidak mudah dalam bergaul. DIbutuhkan ilmu

Bahkan para ulama dahulu belajar adab (bergaul) dulu sebelum belajar kepada seorang ulama. Ada seorang ulama yang memiliki banyak pendengar ketika dia sedang taklim. Ada 5000 orang. Namun yang mencatat hanya sekitar 800 orang. Selebihnya hanya datang untuk memperhatikan sang ulama dan belajar adab pergaulan kepada beliau dengan cara memperhatikan saja.

So penting sekali belajar adab itu.