Namun sebenarnya untuk bersyukur tidaklah harus hal-hal yang secara pandangan umum dinilai sesuatu yang besar. Karena walaupun taruhlah gaji kita kecil tapi ketika kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk melihat anak-anak kita tumbuh dewasa maka itu sudah layak untuk disyukuri bahkan sangat layak. Artinya kita harus senantiasa melihat sisi lain kebaikan yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Jangan sampai kita dibutakan oleh kedengkian kita kepada orang lain sehingga kita menjadi buta terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada kita.
Jangan sampai kita termasuk golongan yang Allah firmankan sebagaimana berikut :
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Rasa syukur di hati dapat membuat hilangnya rasa iri atau dengki kita terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah kepada teman kita atau orang lain. Karena dengan memiliki rasa syukur terhadap apa yang diberikan oleh Allah kepada kita, kita menjadi lebih qana'ah.
Ada kalanya Ketika kita melihat tetangga kita memiliki gaji yang besar kita iri. Seakan kita komplain kepada Allah mengapa saya dibagi gaji kecil sedangkan tetangga kita memiliki gaji yang besar. Padahal kita berdua adalah sama semua makhlukNya Allah.
Sementara itu tetangga kita yang memiliki gaji besar kita tidak tahu ternyata dalam hatinya malah dia iri kepada kita. Dia berpikir mengapa kita meskipun gaji kecil tapi bisa kelihatan bahagia dengan istri dan anak dan banyak kesempatan untuk bercengkerama di rumah. Sementara dia walaupun duit banyak tapi anaknya susah diatur, sementara tanggungan begitu banyak dan harus bertanggung jawab terhadap bawahan yang banyak jumlahnya dengan berbagai kemauan yang beragam.
Sementara itu di tempat lain ada seorang anak buah Pak Menteri yang iri dengan kedudukan dari bosnya. Siapa menteri memiliki jabatan dan kekuasaan yang begitu diagungkan di masyarakat sehingga kemanapun dia pergi dielu-elukan orang. Mendapatkan fasilitas mobil mewah dan tidak perlu membayar pergi ke mana-mana.
Sementara itu jajaran staf nya banyak bahkan di seluruh Indonesia memiliki bawahan. Dan jika melakukan instruksi maka seluruh anak buahnya dengan sigap akan melaksanakan.
Si anak buah Pak Menteri tersebut tidak tahu bahwa sesungguhnya beban pekerjaan dari Pak menteri itu adalah sangat besar. Pak menteri selalu diawasi publik ke manapun berada dengan Paparazzi atau wartawan yang senantiasa menguntitnya kemanapun dia pergi. Sekali salah maka ia akan menjadi Public Enemy. Ataupun sekali salah meletakkan pos anggaran di posisinya, maka serta merta akan terjerat oleh KPK. Dan bui puluhan tahun pun menunggu.
Hidup tidak tenang karena harus ekstra hati-hati agar jangan sampai salah dalam posting anggaran. Dan juga jangan sampai salah ngomong di depan publik.
Si anak buah Pak Menteri tidak tahu bahwa sesungguhnya pak menteri pun sebenarnya ada rasa iri terhadap dirinya. Bahwa dirinya tidak begitu besar tanggung jawabnya dan bisa sewaktu-waktu pulang menikmati hidup tanpa tekanan pressure dari masyarakat.
Begitulah kehidupan. Adakalanya kita iri terhadap orang lain karena yang nampak di mata kita adalah kelebihan dari orang lain tersebut. Sementara yang nampak dari diri kita hanyalah kekurangan dan kekurangan terus. Oleh karena itu agama Islam mengajarkan kepada kita untuk lebih banyak bersyukur. Karena dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat kepada kita.
Allah berfirman dalam Alquran yang mulia :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [Ibrâhîm/14:7]
Namun demikian dengan bersyukur bukan berarti kita menjadi bermalas-malasan dan tidak bekerja keras agar mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Kita harus tetap bekerja keras karena memang kita diperintahkan untuk itu dan secara Fitrah pun kita juga seperti itu. Semangat kompetisi harus tetap kita jaga. Kita masih ingat dulu ketika masih sekolah gimana teman kita bisa ranking lebih tinggi dari kita, kita seakan nggak terima. Kita berusaha keras agar bisa mengejar ketertinggalan kita dari teman kita tersebut.
Allah memerintahkan kepada kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalilnya adalah FirmanNya dalam al-quran sebagaimana berikut :
Surat Al Baqarah ayat 148
ﻭَﻟِﻜُﻞٍّ ﻭِﺟْﻬَﺔٌ ﻫُﻮَ ﻣُﻮَﻟِّﻴﻬَﺎ ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍْ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍْ ﻳَﺄْﺕِ ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺟَﻤِﻴﻌﺎً ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ
Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Q.S Al- Baqarah : 148 )
Contoh yang paling bagus untuk menggambarkan hubungan antara bersyukur dengan tetap semangat berkompetisi adalah di dunia olahraga. Ketika kita kalah tentu kita harus dengan sportif menerima kekalahan tersebut. Artinya kita harus tetap bersyukur sekalipun kita mendapatkan nomor 2, 3, 4, 5, dan seterusnya.
Bahkan Sekalipun kita harus mendapatkan nomor paling buncit atau bahkan tidak finish. Apalagi ketika kita mendapatkan nomor 1, nomor yang paling diidam-idamkan oleh semua peserta. Namun di pertandingan pertandingan berikutnya kita tetap berusaha menyiapkan diri sebaik mungkin agar bisa nomor satu. Entah itu tujuannya untuk merebut atau untuk mempertahankan yang telah kita raih sebelumnya.
Jadi inti kesimpulannya adalah :
Yang pertama kita harus tetap bersyukur dalam keadaan apapun dan berusaha mencari alasan yang baik untuk bersyukur. Jangan melihat ke yang di atas kita tapi lihatlah kepada yang di bawah kita. Maksudnya juga bisa berarti sekali pun yang kita bandingkan dengan diri kita itu adalah orang yang jabatan yang lebih tinggi tapi kita bandingkan dari sisi yang kita unggul atasnya. Contohnya seperti perbandingan antara kita dengan pak menteri di atas. Mungkin pak menteri lebih unggul dari sisi harta namun bisa jadi kita lebih unggul dari sisi kesempatan untuk beribadah misalnya atau kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga misalnya. Di sisi yang kedua ini kita lebih unggul dari pak menteri. Atau kalau kita membandingkan dari sisi harta Maka jangan bandingkan dengan pak menteri. Tapi bandingkan harta kita dengan pemulung misalnya atau orang yang tidak memiliki pekerjaan atau mereka yang cacat yang tidak mampu untuk bekerja misalnya. Sehingga dengan demikian kita merasa lebih unggul dan sudah Seharusnya lebih bersyukur di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kesimpulan yang kedua adalah kita harus tetap berusaha untuk mendapatkan posisi yang lebih baik meskipun kita kalah pada saat itu. Jadi tidak boleh bermalas-malasan karena Allah memang memerintahkan kita untuk bekerja keras, bukan karena ambisi jabatan lebih tinggi, bukan itu. Adapun hasilnya seberapapun itu, tetap kita serahkan kepada Allah karena Dialah yang memberikan kita hasil. Jadi intinya tetap harus ada rasa semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari posisi kita sekarang. Tapi tetap fokus kita pada usaha bukan pada hasil. Biarkan hasil Allah-lah yang menentukan.
Demikian semoga tips sederhana ini bisa mengurangi rasa dengki di hati kita dan bisa bermanfaat bagi kita semua.