Sikap selama menghadapi kesulitan

Sebagai manusia kita hidup pasti dihadirkan oleh banyak cobaan dan kesulitan, kita mau tidak mau akan menerima hal tersebut dan kita harus menjalankannya dengan baik sambil mencari jalan keluar supaya tidak terjerat masalah terlalu lama.
 

Sebagai contoh, manusia didatangkan ujian berupa kemiskinan sekaligus kemakmuran, kesakitan dan kebahagiaan. Dalam sebuah ayat, Allah berfirman, “Kami menguji penduduk desa dengan rasa takut dan kehilangan”. Bahkan dalam situasi saat ini kita melihat pasar naik dan turun membawa kerugian dan keberuntungan besar bagi orang-orang. Setiap mukmin harus menyadari bahwa ia sedang menjalani ujian. “Para nabi menjalani ujian yang paling berat,” kata Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis lain kita diberitahu, “seorang Mukmin diuji menurut kekuatan Diennya.” Semakin kuat imanmu, semakin berat ujianmu. Al-Qur'an mengatakan, "Kami menguji kamu melalui kebaikan dan juga kejahatan."
 

Dalam judul ayat di atas, orang-orang Mukmin disapa secara kolektif dan istilah Arabnya adalah “Kum” yang berarti “kalian semua,” ayat tersebut meramalkan bahwa masing-masing dari kita akan diuji oleh empat jenis ujian, ketakutan dan kelaparan, kehilangan kekayaan dan hidup, dan buah-buahan. Ini dapat dianggap sebagai empat kategori besar dan dari situ kita melihat berbagai tes bermunculan. Bisa ketakutan akan musuh atau ketakutan lainnya, bisa kelaparan karena tingginya harga atau kekurangan makanan. Ini bisa berupa kerugian dalam bisnis atau kematian kerabat. Kita melihat di zaman kita bahwa keuntungan orang serta modal juga terhapus karena krisis keuangan.
 

Allah SWT menguji setiap individu dan itu adalah bagian dari kehidupan. Allah telah mengumumkan, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan memasuki Jannah tanpa mengalami kesulitan-kesulitan seperti yang dialami generasi-generasi sebelumnya?” Memasuki Jannah begitu mudah sehingga Anda hanya membaca kalimat dan berjalan melalui gerbang surga. Generasi-generasi sebelumnya menjalani ujian yang berat agar, “Allah akan melihat siapa yang mukmin yang benar dan siapa yang mukmin yang palsu.” Tes ini untuk membedakan antara yang benar dan yang palsu.
 

Kita harus senantiasa melakukan hal yang baik apapun kondisinya. Karena Allah ingin menguji diri kita dan semua itu pasti akan diganti yang lebih baik. Kita harus berusaha untuk sabar dan tabah untuk menghadapinya. Berhusnudzonlah kepada Allah SWT, semua ini hanyalah sementara. Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hambanya yang bersabar dan selalu berbuat kebaikan, Insha Allah.
 

(Sumber mybetterhalf.com/khutba)